Tips Anak Tips AnakTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
parenting

Mural di Sudut Kota Yogyakarta dan Cara Anak Muda Membaca Jalan

Catatan tentang seni mural di sudut kota Yogyakarta, dari tembok gang sampai percakapan anak muda yang hidup di ruang publik.

23 Jul 2026 · 4 menit baca · oleh Darmaji Suparman
Mural di Sudut Kota Yogyakarta dan Cara Anak Muda Membaca Jalan

Saya pertama kali benar-benar memperhatikan mural di Yogyakarta justru bukan di jalan utama. Lokasinya di sudut gang yang agak teduh, dekat warung kecil dan deretan motor parkir. Dari Makassar, saya terbiasa membaca kota lewat ritme pelabuhan, spanduk toko, juga tembok yang cepat ganti cat. Di Yogyakarta, tembok terasa lebih cerewet: ada wajah tokoh lokal, kalimat pendek yang nyindir pelan, sampai gambar absurd yang baru kebaca maknanya setelah saya diem sebntar.

Di sudut kota ini, mural rasanya bukan sekadar hiasan. Ia ikut ngatur cara orang berjalan, berhenti, motret, lalu ngobrolin kota.

mural warna-warni di sudut gang Yogyakarta

Tembok yang Tidak Netral

Ada banyak alasan orang datang ke Yogyakarta: kuliner, kampus, musik, atau suasana kota yang katanya pelan. Tapi kalau jalan sedikit lebih sabar, mural bakal muncul sebagai catatan pinggir. Ia nempel di tembok kampung, pagar bangunan tua, sisi toko, atau dinding kosong yang tadinya mungkin nggak dianggap penting.

Saya tidak melihat mural-mural itu sebagai latar foto semata. Di beberapa titik, gambar dan tulisan di tembok seperti sedang menanggapi keadaan sekitar. Ada yang bicara soal lingkungan, ada yang menyinggung kota yang makin padat, ada juga yang cuma lucu dan ringan, tapi cukup bikin orang nengok. Justru di situ menariknya.

Nggak semua mural harus terdengar besar. Kadng, satu gambar kecil di tikungan sudah cukup ngasih rasa bahwa sebuah kawasan punya napas sendiri. Kita lewat, melambat sedikit, lalu sadar ada suara lain di luar papan iklan dan rambu jalan.

Yogyakarta punya sejarah panjang sebagai kota seni dan pendidikan. Informasi umum tentang kota ini bisa dilihat di Wikipedia Indonesia, tapi pengalaman membaca mural jelas nggak selesai dari data. Ia lebih kerasa saat kita melewati jalan yang sama pada sore hari, dengar suara motor pelan, lalu melihat tembok yang seolah ikut ngobrol sama warga Soal ini, saya pernah singgung di tips anak hemat.

Anak Muda, Kamera Ponsel, dan Sudut yang Jadi Ingatan

Sekarang, yang paling gampang kelihatan adalah cara anak muda memperlakukan mural sebagai titik singgah. Mereka berhenti, ambil foto, lalu lanjut jalan. Tidak semuanya untuk konten besar, kok. Kadang cuma untuk story sebntar, kadang buat arsip pribadi, kadang karena warna temboknya pas dengan suasana hati hari itu.

Pernah suatu kali saya nunggu teman di kawasan yang ramai anak muda. Dalam waktu kurang dari setengah jam, beberapa orang berhenti di depan satu mural yang sama. Ada yang berpose rapi, ada yang pura-pura lewat, ada juga yang motret detail kecil di pojok gambar.

Dari momen sederhana itu, saya merasa mural bukan cuma karya visual. Ia juga pemantik interaksi. Orang yang nggak saling kenal bisa gantian ambil gambar di spot yang sama, dengan alasan yang beda-beda.

Fenomena ini jelas berkaitan sama media sosial. Tapi rasanya terlalu malas kalau semuanya langsung disimpulkan demi unggahan. Mural di Yogyakarta menarik justru karena lokasinya nyatu sama hidup harian. Tidak steril seperti galeri: ada kabel melintang, bayangan pohon, bekas hujan, coretan tambahan, dan cat yang pelan-pelan pudar. Cara ruang semacam ini membuat orang berhenti juga pernah saya rasakan saat menulis Tempat Menonton Pertunjukan Teater, Dari Gedung Besar ke Ruang Komunitas.

Ketidaksempurnaan itu yang bikin hidup, bangeet malah kadang.

Saat dipotret, yang kebawa bukan cuma gambarnya, tapi juga suasana sudut kotanya. Ada catatan lain soal tubuh, posisi, dan kebiasaan berhenti, meski dari konteks berbeda, di tips memilih kursi kerja ergonomis.

anak muda memotret mural di Yogyakarta

Antara Ekspresi, Izin, dan Kota yang Terus Berubah

Ngomongin mural juga perlu jujur soal batas. Tidak semua gambar di tembok otomatis mempercantik kota. Ada bedanya antara karya yang dipikirkan, dibuat dengan konteks, dan coretan asal yang menimpa ruang orang lain. Di beberapa sudut Yogyakarta, mural terlihat dirawat. Di tempat lain, tembok jadi lapisan banyak tangan, sebagian rapi, sebagian berantakan.

Buat saya, bagian ini penting karena seni jalanan hidup dari hubungan dengan ruang publik. Kalau hubungannya saling menghargai, tembok bisa jadi ruang bicara. Kalau nggak, ia gampang berubah jadi gangguan visual Konteks tambahan ada di tips anak.

Yogyakarta menarik karena dua hal itu berjalan berdampingan. Ada karya yang terasa lahir dari percakapan warga, ada pula yang seperti datang terburu-buru lalu ditinggal begitu saja. Kota memberi ruang, tapi ruang itu juga punya pemilik, punya sejarah, dan punya batas yang kadang tidak tertulis.

Perubahan kota bikin posisi mural agak rentan. Bangunan direnovasi, usaha berganti, tembok dicat ulang, jalan makin ramai. Satu mural yang hari ini jadi penanda tempat bisa hilang bulan depan. Mungkin di situ daya tariknya: mural tidak menjanjikan keabadian. Ia hadir, dibaca, difoto, diperdebatkan, lalu mungkin hilang dan diganti cerita lain.

Sejak mulai rutin menulis pada 2021, saya makin percaya kota sering paling jujur justru di bagian kecilnya. Sudut tembok, gang sempit, warung dekat perempatan, atau gambar yang hampir terlewat. Yogyakarta memperlihatkan itu lewat mural-muralnya. Nggak perlu dibikin terlalu romantis, cukup jalan pelan, lihat tembok yang bicara, lalu sadar bahwa ruang publik kadang menyimpan cerita yang lebih tajam daripada papan nama resmi.

Untuk konteks lebih: sumber resmi.

Topik terkait: Tips anak praktis

Selengkapnya di: sumber resmi

Tag: #mural #yogyakarta #budaya kota